Konsep manusia dalam filsafat pendidikan islam
Nama: Maryanti
NIM: 12401139
Semester: 2
Mata Kuliah: Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampuh: Dr.Syamsul Kurniawan,s.Thi,M,si/Khirunisyah,M.PD.
Dalam filsafat pendidikan Islam, manusia bukan sekadar makhluk biologis,
tetapi merupakan ciptaan Allah yang memiliki dimensi jasmani, ruhani,
intelektual, sosial, dan spiritual. Pemahaman tentang konsep manusia sangat
penting karena menjadi dasar dari segala tujuan, metode, dan pendekatan dalam
pendidikan Islam. Pendidikan Islam tidak hanya bertujuan mencetak individu yang
cerdas secara intelektual, tetapi juga insan kamil, yaitu manusia paripurna yang
seimbang antara akal, hati, dan perbuatannya.Menurut Al-Qur’an, manusia
adalah makhluk yang diciptakan dari tanah dan ruh Ilahi (QS. Al-Hijr: 28–29).
Ini menunjukkan bahwa manusia terdiri dari dua unsur penting: jasad (materi)
dan ruh (spiritual). Dimensi ruh ini yang membedakan manusia dari makhluk
lainnya, karena ruh membawa potensi-potensi mulia seperti akal, hati nurani,
dan kehendak bebas.Filsafat pendidikan Islam memandang manusia sebagai makhluk
yang memiliki fitrah, yakni kecenderungan dasar untuk mengenal dan menyembah
Allah (QS. Ar-Rum: 30). Oleh karena itu, tugas pendidikan adalah menjaga dan
mengembangkan fitrah ini agar tidak tertutupi oleh hawa nafsu, lingkungan yang
rusak, atau kebodohan.Karena manusia dipandang sebagai makhluk
bertanggung jawab (mukallaf), maka pendidikan Islam bertujuan mengembangkan
seluruh potensi manusia agar dapat menjalankan amanah sebagai khalifah di muka
bumi (QS. Al-Baqarah: 30). Tujuan ini mencakup aspek:Tazkiyah al-nafs
(penyucian jiwa): membentuk manusia yang berakhlak mulia.Ta’līm al-‘aql
(pendidikan akal): membangun kemampuan berpikir dan ilmu pengetahuan.Tahdzīb
al-khuluq (pembinaan moral): menguatkan nilai-nilai adab dan tanggung jawab
sosial.Isti’dād li al-akhirah (persiapan menuju akhirat): menanamkan kesadaran
akan kehidupan abadi setelah mati.Dengan kata lain, pendidikan Islam tidak
semata-mata bertujuan duniawi, melainkan juga ukhrawi, sesuai dengan pernyataan
bahwa pendidikan dalam Islam bersifat holistik dan integratif.Filsafat
pendidikan Islam mengakui bahwa manusia diciptakan dalam keadaan memiliki
potensi dasar yang perlu dikembangkan, antara lain:Akal (‘aql): digunakan untuk
berpikir, menganalisis, dan mengambil keputusan.Qalb (hati): sebagai pusat
kepekaan moral dan spiritual.Nafs (jiwa): yang memiliki kecenderungan kepada
kebaikan (amar ma’ruf) dan keburukan (nahi munkar).Jasad (tubuh): yang menjadi
alat untuk menjalankan tugas-tugas kemanusiaan.Pendidikan Islam idealnya
memberi ruang bagi semua potensi ini untuk berkembang secara seimbang, tidak hanya
mengedepankan aspek kognitif atau hafalan semata, melainkan juga afektif dan
psikomotorik dengan dasar nilai-nilai Islam.Manusia dalam Islam adalah makhluk
yang diberi tanggung jawab moral dan sosial. Oleh karena itu, proses pendidikan
harus diarahkan agar peserta didik mampu memahami peran mereka dalam keluarga,
masyarakat, dan dunia secara luas, sesuai dengan tuntunan Allah.Pendidikan
harus membantu manusia untuk mengenal dirinya (ma‘rifat al-nafs), mengenal
Tuhan (ma‘rifatullah), dan mengenal lingkungannya. Rasulullah SAW menjadi
contoh sempurna dalam membina manusia dari masyarakat jahiliyah menjadi
generasi rabbani yang berperadaban tinggi. Sebagaimana sabdanya:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Dari sini jelas bahwa misi utama pendidikan Islam adalah membentuk akhlak
dan karakter luhur, bukan hanya transfer ilmu pengetahuan.Berbeda dengan
pandangan filsafat Barat yang cenderung memisahkan antara jasmani dan rohani,
atau bahkan menjadikan manusia sebagai makhluk ekonomi atau sosial semata,
Islam melihat manusia secara utuh. Dalam pemikiran sekuler, pendidikan
seringkali hanya diarahkan untuk kepentingan pasar kerja atau pembangunan
ekonomi.Sementara dalam Islam, pendidikan tidak boleh kehilangan dimensi
transendental. Keberhasilan pendidikan diukur bukan hanya dari prestasi
akademik, tetapi dari seberapa jauh peserta didik memahami tujuan hidup,
menjaga integritas, dan menjalankan amanah sebagai hamba dan khalifah
Allah.Konsep manusia dalam filsafat pendidikan Islam menekankan bahwa manusia
adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki fitrah, akal, hati, dan tanggung
jawab moral serta spiritual. Pendidikan Islam bertujuan mengembangkan seluruh
potensi manusia secara holistik—baik jasmani, ruhani, intelektual, maupun
sosial—agar mampu menjadi hamba Allah yang taat dan khalifah yang amanah di
bumi. Dengan dasar inilah, pendidikan tidak hanya berorientasi pada kecerdasan
akademik, tetapi juga pembentukan akhlak mulia dan kesadaran akan tujuan hidup
yang lebih tinggi, yaitu mencapai kebahagiaan
dunia dan akhirat.Konsep manusia dalam filsafat pendidikan Islam
menempatkan manusia sebagai makhluk yang istimewa dengan fitrah dan potensi
yang harus dikembangkan secara holistik. Pendidikan Islam harus mampu membentuk
manusia seutuhnya—berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab kepada Allah dan
sesama. Dengan memahami hakikat manusia menurut Islam, kita dapat merancang
sistem pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menyeimbangkan
dunia dan akhirat.
Daftar pustaka:
Muhaimin. 2004. “Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Membangun Pendidikan Integratif.” Jurnal Pendidikan Islam 1 (1): 1-15.
Ramayulis. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Suyadi. 2013. “Konsep Pendidikan Islam Berbasis Fitrah.” Jurnal Pendidikan Islam 2 (1): 45-62.
Zuhairini, Ahmad et al. 2010. “Konsep Pendidikan dalam Islam.” Al-Tadzkiyyah 3 (2): 117-132.
Komentar
Posting Komentar